.

Takdir itu tidak ada. Manusia tidak hidup hanya sebatas "sudah ditentukan takdir", semua butuh usaha.

Kamis, 14 Agustus 2014

Sorry for spam!!! Really bad mood!!!

Di umurku sekarang, teman-teman sepantaranku biasanya anak paling besar. Aku malah yg terakhir dr 12 bersaudara. Tau kan membesarkan satu orang anak aja susah? Bisa bayangin gimana kalau 12 anak? Tau seberapa tua mamak bapakku? Tau sejauh mana yang diperjuangkan? Jajanku sendiri aja udah sebesar gaji pns. Belum keperluan rumah. Belum uang sekolah. Belum ini belum itu. Belum abangku belum kakakku. Kebayang gimana usaha mereka membiayai kami? Kami bukan orang kaya. Bukan. Rumah kami bukan rumah gedong. Bukan. Cuma sepetak. Tapi tau kayakmana beli rumah ini puluhan tahun yg lalu? Emangnya segampang sekarang? Perumahan berserak dimana-mana, bisa cicil sekian puluh tahun, dp bisa di angsur, ada juga KPR. Nggak gitu. Tau image jaman dulu kalau punya rumah di perumahan? Nggak perlu ku jelaskan. Bisa mikir sendiri kan? Sombong? Tidak. Saya hanya tidak senang Anda menghina orang tua saya. Atas dasar apa orang yang anaknya susah sekolah susah makan susah hidup, menghina orang yang sudah mati-matian banting tulang menafkahi dan memberikan kehidupan layak pada keluarganya? Atas dasar apa Anda mengomentari rumah kami yang sepetak sementara Anda pun tidak memiliki rumah? Coba tanya Tuhan kenapa Anda tidak dicukupi? Tidak cukup saja sombong bukan main dan seenaknya menghina orang lain. Bagaimana jika cukup? Bagaimana jika sudah berlebihan? Mungkin Tuhan tau jawabannya.