Well, Ayah
siapa yang tak hebat? Apakah ada yang tak mengagumi ayahnya? Ayah. Sebenarnya
selalu ada hal yang bergejolak dihatiku jika aku mendengar kata ini. Ayah adalah
sosok yang sangat bisa membuat hatiku gemetar.
Mari aku ceritakan, aku adalah anak terakhir dari 12 bersaudara, dan saat ini umurku 18 tahun dan berkuliah di salah satu universitas swasta di pulau Bali. Saat ini ayahku berumur 72 tahun. Sedikit aneh ketika aku bercerita tentang ayahku kepada semua teman-temanku. Bagaimana tidak, tak sedikit yang mengakui bahwa umur ayahku lebih tua dari kakek mereka :)
Yang paling mengagumkan itu adalah ketika aku menyadari di umurnya yang begitu rentan, Ayah masih saja terlihat super tampan, ingatannya juga masih kuat, dan Beliau masih berjalan dengan gagahnya. Ayah seorang wirausaha, memang bukan seorang pengusaha besar, tetapi di tahun 2013 ini, disaat semua orang mengalami kesulitan keuangan untuk menafkahi keluarganya, tapi ayahku mampu membesarkan dan memberikan pendidikan yang baik untuk seluruh putra-putrinya. Setahun belakangan ini Ayah membuka usaha baru, peternakan ikan di Desa Tongging di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Begini memang nasib seorang wirausaha, tak memiliki gaji tetap dan tak bisa merasakan masa pensiun. Sampai saat ini Ayah masih saja berwirausaha, Ayah yang menakjubkan bukan?
Begini, kami bukan keluarga kaya raya, tetapi aku tahu bahwa kami selalu memiliki keuangan yang baik. Ayah siapa yang ketika memiliki finansial yang baik tetapi tidak memanjakan keluarganya? Ayah siapa yang tak memprioritaskan kenyamanan keluarganya? I tell you now. That’s my daddy!
Dulu aku merasa kesal ketika Ayah tak pernah membelikanku baju baru, tidak membelikanku perhiasan, ataupun gadget yang keren. Lalu mengapa Ayah selalu saja sangat royal terhadap sanak saudara dan kerabat kerjanya? Saat itu aku merasa Ayah tak pernah memperlakukan kami dengan adil. Lalu muncul pertanyaan dalam benakku, “Untuk siapa Ayah bekerja jika bukan untuk memenuhi kebutuhan kami?” Sungguh mengherankan, mengapa Ayah tak bisa seperti Ayah orang lain? Ketika Ayah memiliki rejeki yang baik, mengapa Ayah tidak memperindah rumah kami, atau memperbanyak mobil, atau mungkin mengajak kami berjalan-jalan?
Lalu setelah aku menyelesaikan sekolahku, aku sepertinya mulai mengerti jalan pikiran Ayah. Ayah memang jarang membelikan kami barang mewah, tetapi yang terpenting adalah kami selalu berkecukupan dan tak pernah kekurangan apapun. Kami juga disekolahkan di perguruan Katolik ternama yang selalu mengajarkan etika dan kedisiplinan. Setiap hari juga tersedia makanan yang bergizi, yang aku maksudkan disini adalah “benar-benar bergizi” karena Ayah tak pernah mengijinkan kami makan masakan yang diberi bumbu penyedap, atau mungkin makan makanan siap saji, dan makanan yang memiliki zat pengawet. Masakan di rumah kami murni selalu menggunakan bumbu dapur seadanya, dan Ayah Ibuku juga tak pernah keberatan untuk mengeluarkan dana ekstra untuk membeli daging, ikan, sayur, dan buah-buahan dengan kualitas yang terbaik.
Mari aku ceritakan, aku adalah anak terakhir dari 12 bersaudara, dan saat ini umurku 18 tahun dan berkuliah di salah satu universitas swasta di pulau Bali. Saat ini ayahku berumur 72 tahun. Sedikit aneh ketika aku bercerita tentang ayahku kepada semua teman-temanku. Bagaimana tidak, tak sedikit yang mengakui bahwa umur ayahku lebih tua dari kakek mereka :)
Yang paling mengagumkan itu adalah ketika aku menyadari di umurnya yang begitu rentan, Ayah masih saja terlihat super tampan, ingatannya juga masih kuat, dan Beliau masih berjalan dengan gagahnya. Ayah seorang wirausaha, memang bukan seorang pengusaha besar, tetapi di tahun 2013 ini, disaat semua orang mengalami kesulitan keuangan untuk menafkahi keluarganya, tapi ayahku mampu membesarkan dan memberikan pendidikan yang baik untuk seluruh putra-putrinya. Setahun belakangan ini Ayah membuka usaha baru, peternakan ikan di Desa Tongging di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Begini memang nasib seorang wirausaha, tak memiliki gaji tetap dan tak bisa merasakan masa pensiun. Sampai saat ini Ayah masih saja berwirausaha, Ayah yang menakjubkan bukan?
Begini, kami bukan keluarga kaya raya, tetapi aku tahu bahwa kami selalu memiliki keuangan yang baik. Ayah siapa yang ketika memiliki finansial yang baik tetapi tidak memanjakan keluarganya? Ayah siapa yang tak memprioritaskan kenyamanan keluarganya? I tell you now. That’s my daddy!
Dulu aku merasa kesal ketika Ayah tak pernah membelikanku baju baru, tidak membelikanku perhiasan, ataupun gadget yang keren. Lalu mengapa Ayah selalu saja sangat royal terhadap sanak saudara dan kerabat kerjanya? Saat itu aku merasa Ayah tak pernah memperlakukan kami dengan adil. Lalu muncul pertanyaan dalam benakku, “Untuk siapa Ayah bekerja jika bukan untuk memenuhi kebutuhan kami?” Sungguh mengherankan, mengapa Ayah tak bisa seperti Ayah orang lain? Ketika Ayah memiliki rejeki yang baik, mengapa Ayah tidak memperindah rumah kami, atau memperbanyak mobil, atau mungkin mengajak kami berjalan-jalan?
Lalu setelah aku menyelesaikan sekolahku, aku sepertinya mulai mengerti jalan pikiran Ayah. Ayah memang jarang membelikan kami barang mewah, tetapi yang terpenting adalah kami selalu berkecukupan dan tak pernah kekurangan apapun. Kami juga disekolahkan di perguruan Katolik ternama yang selalu mengajarkan etika dan kedisiplinan. Setiap hari juga tersedia makanan yang bergizi, yang aku maksudkan disini adalah “benar-benar bergizi” karena Ayah tak pernah mengijinkan kami makan masakan yang diberi bumbu penyedap, atau mungkin makan makanan siap saji, dan makanan yang memiliki zat pengawet. Masakan di rumah kami murni selalu menggunakan bumbu dapur seadanya, dan Ayah Ibuku juga tak pernah keberatan untuk mengeluarkan dana ekstra untuk membeli daging, ikan, sayur, dan buah-buahan dengan kualitas yang terbaik.
Lalu mengapa
Ayah tak pernah membelikanku baju baru? Bisakah anda bayangkan di umur 18 tahun,
aku tetap saja mengenakan pakaian turun temurun? Well, maksudku pakaian turun
temurun ini adalah pakaian yang tidak dipakai lagi oleh kakak-kakakku. Ini
tahun 2013, dan semua orang berlomba-lomba untuk menjadi remaja modis. Aku
bukannya ingin memaksakan keadaan. Aku beritahu sekali lagi, aku berasal dari
keluarga mampu. Lain halnya jika tadi aku berasal dari keluarga yang tidak
berkecukupan. Terkadang aku merasa sangat angkuh jika aku mengucapkan kata-kata
ini. Tapi tidakkah Anda merasakan hal yang sama jika Anda diposisiku? Jika anda
berada didalam keluarga yang berfinansial baik, tidakkah Anda selalu ingin
mempercantik penampilan?
Oke, lalu
aku menyadari satu hal. Hal ini sangat mencolok bagiku. Ini tentang uang saku.
Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, dulu aku bersekolah di sekolah
swasta, sebagian besar teman-temanku juga berasal dari keluarga terpandang, dan
sebagian juga dari keluarga yang pas-pasan. Hal ini kusadari ketika jam
istirahat dimana semua orang akan berkumpul di kantin untuk menyantap hidangan
yang nikmat, namun cukup mahal untuk kantong anak sekolahan. Aku melihat
beberapa dari mereka yang tidak peduli dengan seberapa banyak uang yang mereka
keluarkan, karena bagi mereka uang itu seperti air yang akan terus mengalir ke
dalam kantong mereka. Dan yang lainnya mengaku harus menahan lapar hanya untuk
bisa makan sekali dalam seminggu di kantin, biasanya mereka memilih makan
dikantin pada hari Rabu, karena di hari Rabu ada pelajaran olahraga, dan itu
berarti mereka butuh energi tambahan. Hal ini menyadarkanku bahwa aku memiliki
uang saku yang lebih dari cukup. Bisakah anda menangkap hal apa yang ingin aku
sampaikan? Setiap hari keluarga kami berkecukupan makanan yang enak dan
bergizi, aku tak pernah merasa kelaparan, dan aku juga tak perlu repot-repot
menyisihkan uang jajanku untuk bisa makan siang di kantin. Setiap harinya aku
diantar jemput dengan mobil pribadi ayahku, dan aku selalu diberikan uang saku
yang jumlahnya berkali-kali lipat dari uang saku teman-temanku. Akhirnya aku
menyadari bahwa dari uang saku itulah Ayahku mewujud-nyatakan hal-hal yang
selama ini aku tanyakan dalam hatiku. Bukankah aku tidak dibelikan baju baru?
Setelah ku pikirkan, dan setelah ku kalkulasikan uang saku-ku, maka banyak hal
yang kusadari. Jika aku menggunakan uang itu untuk hal-hal yang seperlunya
saja, setiap minggunya uang saku-ku akan cukup untuk membeli sepasang baju yang
bagus, dan juga akan cukup membeli sepatu dengan kualitas yang baik! Lalu
bagaimana dengan gadget yang ku inginkan? Ya, aku hanya perlu menabung uang
saku-ku selama 3-4bulan, maka aku akan mendapatkan gadget tersebut! Can you see
how great my daddy? Aku tau, uang bukanlah hal yang sulit untuknya. Ayah bisa
memberikan kami semuanya secara cepat dan cuma-cuma, tapi Ayah tidak melakukan
itu. Beliau lebih memilih untuk melengkapi apa yang kami butuhkan dengan
caranya sendiri. Ayah memanjakan kami, tetapi tidak menjadikan kami anak yang
manja. Secara tidak langsung Ayah memberitahu kami bahwa kesuksesan yang Ayah
miliki saat ini, pasti Ayah dapatkan dengan usaha dan kerja keras. Dan aku tahu
Ayah pasti menginginkan kami jadi sepertinya, aku tau Ayah ingin kami
mendapatkan apa yang kami mau dengan cara terbang seperti burung dan mengejar
berkat dari Tuhan, bukan hanya diam dan menantikan berkat itu jatuh dari langit
dan muncul secara tiba-tiba didepan wajah kami.
Lalu mengapa
Ayah selalu royal pada orang lain yang bukan keluarganya? Mengapa Ayah tidak
memprioritaskan kebutuhan keluarganya terlebih dahulu, lalu membantu orang
lain? Sekarang aku tau, apapun yang Ayah lakukan, baik dan buruk, benar ataupun
salah dimataku, tapi aku yakin bahwasanya Ayah telah memprioritaskan kami
terlebih dahulu, tentu saja dengan caranya yang terkadang tidak dapat kupahami.
Beliau memang
suka membagikan keberuntungannya kepada orang lain, disinilah aku tahu, bahwa
dengan caranya yang seperti itulah maka rejeki kami selalu mengalir, kami
selalu berkecukupan, dan tak kekurangan suatu apapun. Aku merasa beruntung
dikeluarga ini, tentu saja dengan ayahku yang super hebat. Banyak keluarga
diluar sana yang kaya raya, berkelimpahan kemewahan, tetapi tak pernah mendapat
perhatian dari orangtuanya. Dan sebaliknya ada yang memiliki waktu banyak
bersama orang tuanya tetapi mereka tidak memiliki finansial yang baik. Dan aku
disini tidak bergelimangan harta, tetapi bergelimangan berkat dari Tuhan karena
Tuhan sudah memberikan keluarga ini padaku. Dan keluargaku sudah lebih dari cukup.
Terkadang aku
juga memikirkan hal-hal yang sangat buruk. Aku berfikir saat ini usiaku masih 18tahun,
dan ayahku sudah mencapai umur 72 tahun. Hal ini tentu saja membuatku sangat
takut. Begitu banyak kekhawatiran, akankah aku bisa sukses seperti Ayah dan
membanggakannya sebelum waktunya tiba? Aku sering membayangkan, apapun hal yang
aku lakukan, seolah-olah semuanya demi Ayah. Aku juga ingin 7-8 tahun lagi, Ayah
masih ada disisiku, merestui pernikahanku dengan orang yang kucintai, dan tentu
saja memberi nama pada anak pertamaku. Pasti akan terasa sangat tidak adil,
jika Ayah menimang cucu dari abang dan kakakku, tetapi tidak dari aku. Aku tau
semua ini terlalu cepat kupikirkan. Tapi inilah harapan terbesarku. Karna
kesuksesan yang nanti akan diraih, tidak akan menjadi berarti jika kita tidak
bersama orang yang kita kasihi.
Dan pada
akhirnya aku pikir aku tak perlu begitu banyak motivator terkenal, karena Ayah
juga bisa jadi motivator terhebat untuk diri sendiri :)
Entah bagaimana, aku selalu yakin
suatu saat nanti aku akan pulang ke kampung halamanku, dan hanya kesuksesan
yang akan kubawa. Dan tentu saja, gadis kecil Ayah sudah bukan gadis kecil
lagi. Ayah, terima kasih Ayah :)
Salam hangat, Paula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar