Ada yang
bilang bahwasanya kita tak perlu mencinta secara berlebihan, dan kita juga tak
perlu bersusah payah mengejar cinta, dan mencari jodoh kesana kemari. Ada yang
merelakan cintanya pergi dengan alasan “kalau
jodoh gak lari kemana” “kalau jodoh, pasti nanti balik lagi”. Ada yang
bilang kita takperlu susah payah mencari karena Tuhan sudah menentukannya untuk
kita. Ada yang bilang tak perlu berharap lebih karena mungkin nantinya kita
akan kecewa ketika ternyata bukan dia yang ditentukan Tuhan untuk kita.
Apakah benar
ketika kita dilahirkan, Tuhan sudah menentukan jodoh kita masing–masing?
Kalau
begitu, bagaimana jika saya ilustrasikan dengan perandaian-perandaian berikut
ini.
Ketika
seseorang dilahirkan, dia telah memiliki jodohnya. Tapi bagaimana jika pada
saat dia dewasa, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawan/biarawati? Apa
yang terjadi dengan jodohnya? Apakah jodoh yang telah dipersiapkan tadi tidak
boleh mencari dan memiliki pasangan hidup lagi?
Ketika seorang anak beranjak remaja, dan berada dalam lingkungan yang tidak baik dan mengakhiri hidupnya di usia muda. Apa yang terjadi dengan jodoh yang telah disiapkan Tuhan?
Lalu bagaimana tentang anggapan bahwa jodoh itu hanya satu untuk seumur hidup?
Bagaimana
jika ilustrasinya seperti ini. Ada sepasang suami istri yang hidup bahagia dan
saling mencintai. Beberapa tahun menikah, sang isteri meninggal dunia. Lalu
setelah beberapa kurun waktu kemudian sang suami bertemu dengan wanita lain dan
jatuh cinta lalu menikah kembali. Siapakah sebenarnya jodoh laki-laki ini?
Bagaimana jika laki-laki tersebut jatuh cinta tapi tidak memutuskan untuk
menikah lagi? Semuanya kembali lagi pada pilihan dan keputusan manusia itu
sendiri.
Jodoh, Tuhan
yang tentukan atau kita yang memilih?
Banyak orang
yang mendefenisikan bahwa jodoh itu adalah dengan siapa kamu menikah pada
akhirnya. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi pertentangan-pertentangan
sebelum dan sesudah menikah?
Sebagai contoh, dalam budaya Batak, tidak diperkenankan menikah dengan orang yang memiliki kesamaan marga. Tetapi dewasa ini, begitu banyak yang melanggar aturan adat ini. Ada beberapa orang yang menikah dengan mereka yang bermarga sama. Mereka menikah. Berarti mereka berjodoh bukan? Jadi jodoh itu Tuhan yang menentukan? Lalu kalau mereka berjodoh, mengapa mereka dikatakan melanggar adat? Mengapa pernikahan mereka dipermasalahkan? Bukankah disini adalah keputusan manusia itu sendiri untuk melanggar adat atau tidak?
Sebagai contoh, dalam budaya Batak, tidak diperkenankan menikah dengan orang yang memiliki kesamaan marga. Tetapi dewasa ini, begitu banyak yang melanggar aturan adat ini. Ada beberapa orang yang menikah dengan mereka yang bermarga sama. Mereka menikah. Berarti mereka berjodoh bukan? Jadi jodoh itu Tuhan yang menentukan? Lalu kalau mereka berjodoh, mengapa mereka dikatakan melanggar adat? Mengapa pernikahan mereka dipermasalahkan? Bukankah disini adalah keputusan manusia itu sendiri untuk melanggar adat atau tidak?
Satu ilustrasi lagi. Ketika hari ini saya bangun, memulai hidup, bekerja keras dan memutuskan untuk menjadi orang yang berhasil. Katakanlah saya memiliki pekerjaan yang baik di benua Eropa. Itu tidak menutup kemungkinan bahwa saya akan menikahi salah satu warga negara asing bukan?
Lalu bagaimana jika hari ini saya bermalas-malas dan tidak menjadi orang yang sukses, apakah saya akan pergi ke Eropa? Apakah saya akan menikah disana? Apakah saya akan bertemu seseorang yang tadinya akan menjadi jodoh saya? Ingat, kita bukan didalam dongeng yang pangerannya mencari sang putri sampai ke ujung dunia.
Menurut saya, kita sendiri yang menentukan jodoh kita, kita yang menentukan kualitas dari pasangan hidup kita. Ada beberapa orang yang setelah membangun bahtera rumah tangga, mereka bertanya kepada diri mereka, bahkan mereka mempertanyakan hal ini kepada Tuhan. “Mengapa saya tidak memiliki pasangan hidup yang rupawan? Mengapa saya tidak mendapatkan pasangan hidup yang kaya raya? Mengapa pasangan hidup saya pemain judi? Mengapa pasangan hidup saya pemabuk? Mengapa pasangan hidup saya adalah orang yang sangat kasar?”
Saya pikir,
sebelum Anda mendapatkan apa yang Anda mau, mulailah dari diri Anda sendiri.
Apakah Anda sudah cukup baik untuk mendapatkan yang terbaik? Saya tidak
membicarkan fisik, tapi secara alamiah pria/wanita baik akan tertarik untuk
memulai suatu hubungan ketika bertemu dengan orang yang baik dan bisa membuat
mereka merasa nyaman.
Tentukan terlebih dahulu akan menjadi apa Anda nantinya. Lalu tentukanlah siapa yang pantas untuk menjadi pasangan hidup Anda.
Karna ketika
Anda sukses, Anda pastinya akan lebih banyak menghabiskan waktu Anda di
lingkungan orang-orang sukses. Dan itu tidak menutup kemungkinan bahwa Anda
akan bertemu seseorang yang sukses juga yang dapat menarik perhatian Anda. Jika
Anda mendapatkan seseorang yang baik dalam finansial, kemungkinan besar Anda
akan menjalani kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya dari segi materi, tetapi
juga dari sifat dan perilakunya. Dia sukses, sudah pasti dia berpendidikan,
sudah pasti dia beretika, sudah pasti dia adalah seorang pekerja keras, juga
memiliki visi dan misi. Dan dia pasti tahu bagaimana cara menghargai kerja
keras dan mensyukuri kehidupan. Anda pasti akan berbahagia!
Begitu juga sebaliknya, ketika Anda tidak berada di
lingkungan orang sukses, mungkin Anda bertemu seseorang yang tak bisa
menghargai kehidupan? Bertemu seseorang yang tidak bisa memberikan kenyamanan untuk
Anda? Jika Anda berkata, “Saya tidak butuh materi, saya mencintainya dan dia
mencintai saya”. Saya beritahu pada Anda saat ini, tanpa materi, sebesar apapun
rasa cinta itu, itu tidak akan berarti. Manusia tidak akan pernah bisa
merealisasikan cintanya tanpa materi. Dan yang kedua, jika seorang laki-laki mencintai
Anda dengan sungguh-sungguh, maka dia akan berusaha sekeras mungkin untuk
membawa Anda dalam kehidupan yang lebih
baik.
Saat ini yang ingin saya katakan adalah tentukan sendiri pilihan Anda. Karena ketika Anda telah memilih pasangan hidup, baik atau buruknya dia, jangan pernah salahkan keadaan apalagi menyalahkan Tuhan, karena Tuhan pun tak pernah ingin memberi yang terburuk untuk hidup kita. Dan apakah benar kita tak perlu mencari jodoh karna semuanya sudah diatur Tuhan? Saya kira sebaliknya, sebenarnya Tuhan memberikan kita kebebasan untuk menentukan sendiri siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita. Kita mencari, dan Tuhan hanya merestui dan mempersatukannya. Tapi tentu saja kita harus selalu meminta petunjuk dari Tuhan untuk memilih pasangan hidup yang benar-benar kita inginkan. Cintai apa yang kamu miliki. Usahakan apa yang kamu inginkan. Syukuri apa yang kamu capai. Dan jangan lupa selalu andalkan Tuhan dalam apapun kegiatan yang Anda lakukan, percayakan semua pada Tuhan ketika Anda membuat sebuah keputusan. Apapun agama yang Anda percayai, berjalanlah bersama Tuhan. Tuhan memberkati.
With Love, Paula :)
nice share
BalasHapusThanks :)
BalasHapus